Rabu, 30 November 2011

love between the two options




Aku Beby Awalnya aku sangat tidak menyukai bersekolah di sini,,, karena tempat ini menurutku adalah tempat bagi orang orang yang hanya mengandalkan uang dan harta milik orang tuanya. Aku memang terlahir seperti mereka tapi aku tidak menyukai orang yang membedakan kasta/status sosial orang lain.
Di pagi hari tepatnya hari senin upacara tengah di laksanakan, aku terlambat ke sekolah dan harus menunggu di depan gerbang , tiba tiba seseorang menghampiri aku dan berdiri tepat di sebelah ku ternya dia juga terlambat sama sepertiku, entah apa yang ada di pikirannya dia terlihat sangat murung. Dia adalah Rangga anak pemilik perusahaan asuransi terbesar di Bandung dia sekarang kelas 11.2 ipa, aku tidak mengerti kenapa dia terlihat begitu murung padahal aku pikir dia memiliki segalanya apa yang tidak di miliki orang lain tapi aku mendengar sebuah gosip yang tidak menyenangkan bahwa Rangga mempunyai segalanya tapi dia tidak pernah di perhatikan oleh orang tuanya , mungkin itu yang menyebabkan dia terlihat murung.
Aku mencoba menyapanya dan berkenalan dengannya, tapi dia hanya menjawab seperti ini senang berkenalan dengan mu setelah itu dia hanya terdiam seolah olah dia hanya sendiri di tempat dia berdiri.
Setelah upacara selesai dan kamipun bisa masuk ke sekolah, di sepanjang jalan menuju kelas aku hanya berfikir tentang apa yang mengakibatkan Rangga selalu murung mungkin gosip itu benar entahlah. Sesampainya di kelas aku hanya duduk termenung dan diam sambil menunggu guru yang akan masuk kedalam kelas, tidak berselang lama Pak Reza pun datang, Pak Reza adalah guru Kimia yang hobinya memberi tugas kepada muritnya entah apa yang dipikirkan saat memberi tugas Pak Reza tidak memandang apakah tugasnya banyak atau sedikit. Proses belajar pun di mulai tapi aku masih memikirkan kejadian tadi, tiba-tiba seseorang muncul dari balik pintu kelas 10.1 yaitu kelas tempat aku berada sekarang dia adalah seorang murid baru bernama Bisma, Bisma adalah pindahan dari salah satu Sma negri di bandung katanya di adalah orang yang paling pintar di Sma nya dulu, tapi dia bukan orang yang berkecukupan, seperti murid-murid lain yang berada di sekolah ini, dia di pindahkan ke sekolah ini karena prestasi dia yang sangat bagus.
                Bel istirahat pun berbunyi setelah proses belajar terajadi cukup lama, semua siswa-siswi menuju keluar pintu kelas lain halnya dengan Bisma, aku mencoba menghampirinya dan bertanya kepadanya 
“kenapa kamu tidak bergabung dengan anak-anak lain?” kata ku sambil berusaha akrab dengan murid yang baru masuk sejam yang lalu, “aku belum terbiasa dengan suasana di sini” kata Bisma dengan menatap ku tajam, “Baiklah ku harap kamu bisa beradaptasi dengan suasana seperti ini, mau kekantin bersama ku?” ajak ku, seketika itu pun Bisma menjawab “Boleh...”
            Semenjak itu aku dan bisma mulai akrab, saat perjalanan menuju kantin ada 2 orang yang menghalangi langkah kami berdua Mereka itu Dicky dan Morgan si kembar  yang sok kecakepan, memang mereka ganteng tapi mereka angkuh dan sombong  tapi walaupun mereka seperti itu banyak yang mengagumi dan menyukai mereka aku tidak habis pikir, entahlah aku tidak mengerti yang ada di pikiran mereka, aku tidak tau mengapa mereka menghentikan langkah kami
Akupun bertanya kepada Dicky “ ada apa urusan apa sih kamu sampai menyetop langkah aku?” Dicky hanya terdiam dam memandang  tajam ke arah Bisma, Morgan tiba-tiba memecah kebisuan di antara kami “Siapa yang tuh yang bersamamu?” kata Morgan dengan suara yang lumayan keras,aku pun menjawab ” Memang apa urusan mu?”  setelah aku berkata seperti itu tanpa aku memperdulikan mereka, aku dan Bisma langsung pergi dari hadapan mereka.
Sesampainya di kantin aku melihat Rangga duduk terdiam bersama Rafael dan Ilham yeng tengah asyik menyantap makanan mereka, Rafael dan Ilham adalah sahabat Rangga sejak duduk di bangku SMP kemana-mana mereka selalu bersama, jujur aku sangat senang melihat Rangga, mungkin kalau aku melihat Rangga semua apa yang ada di hadapan ku akan aku abaikan, tiba-tiba Rangga menghampiri aku merasa senang saat dia menghampiri aku tapi ternyata dia tidak menuju kemeja aku dia sama sekali tidak berhenti, dia hanya melewati tempat aku duduk dengan Bisma dikantin, aku terlalu berharap kepadanya, Bisma tiba-tiba berkata “kenapa kamu tiba-tiba murung?” “tidak aku hanya tidak enak badan” jawabku dengan nada yang pelan, “kalau begitu kamu merasa seperti itu lebih baik kita kembali ke kelas” kata bisma “Baiklah”. Kamipu kembali kekelas, tak lama setelah kami kekelas bel masukpun berbunyi, aku hanya termenung di kelas sambil memperhatikan sedikit penjelasan dari guru yang mengajar aku sangat bosan dengan suasana belajar yang alot yang tengah terjadi, ting... ting... seketika itu juga bel pulang berbunyai setelah beraktifitas di sekolah seharian aku merasa sangat lelah, aku ingin cepat cepat sampai di rumah, tapi sudah setengfah jam aku menunggu jemputan aku tapi tidak kunjung datang, tiba-tiba seseorang yang mengendarai mobil sedan berwarna silver menghampiri dan berhenti tepat di depan aku, lalu seseorang membuka kaca mobil, ternyata dia adalah rangga, dia berkata “kenapa belum pulang?” “a..aakku nungguin jemputan aku” jawabku dengan terbata-bata, aku berharap dia akan menawarkan untuk mengantarku pulang tapi anggapan ku salah, dia menutup kaca mobil dan begitu saja pergi.
Daripada aku menunggu lama lebih baik aku jalan kaki sambil mencari kendaraan yang dapat ditumpangi kata aku dalam hati, di tengah perjalanan aku bertemu dengan pak Reza, dengan mengendarai skuternya dia berhenti dan menawarkan aku untuk pulang bersamanya, sebenarnya pak Reza baru berusia 23 tahun dan belum menikah tapi karena dia jenius dan pintar dia bisa menjadi guru di usianya yang begitu muda menjadi guru kimia pula dan Pak Reza Lumayan tampan juga, sebenarnya aku capek berjalan dan tidak ada satupun kendaraan umum yang melintas, akhirnya aku menerima ajakan pak Reza, setelah sampai dirumah aku langsung berbaring di tempat tidur, tringgg....tringgg Hand phone ku berdering sangat keres aku langsung memeatikan HP tanpa melihat siapa yang menelpone ku,
Keesokan harinya ketikaa aku ingin berangkat sekolah tiba-tiba sudah ada orang yang menungguku di depan rumah yang mengendarai motor matik berwarna hitam yaitu Dicky, aku berpikir sedang apa dia di sini, aku pun berjalan menuju ke arahnya “sedang apa kau disini” dia hanya terdiam dan menyuruh ku untuk ikut dengennya, aku tak tau dia mau mengajakku k mana tapi dia tidak mungkin kesekolah tanpa seragam dia hanya memakai kaos yang dibalut dengan jaket dan celana jeans sebagai pelengkapnya, sebenarnya aku tidak ingin ikut dengannya tapi kalau itu sampai terjadi Dicky bisa ngamuk sampai sapai tidak bisa di hentikan, lebih baik aku ikut dengannya. “Memangnya kita mau kemana?” tanyaku pada Dicky “sudahlah cepat kamu naik!” kata dicky.
Sudah lima menit kami berada di atas kendaraan ini tapi tak kunjung tiba juga, “sebenarnnya kita mau kemana” tanyaku pada Dicky, dia tidak merespon pertanyaanku dia hanya bilang “kamu tenang saja” tapi aku risih dan gelisah, aku berusaha mencari cara untuk pergi dari Dicky, tiba-tiba terlintas di pikiranku untuk pura-pura ingin k toile, Ky aku kebelet boleh aku ke kamar kecil kataku dengan suara yang ketakutan, “baiklah tapi jangan lama-lama” itu yang dikatakan Dicky padaku, setelah mata dicky luput dariku aku segera pergi menjauh sejauh-jauhnya dari dia. Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat Bisma duduk sendiri di halte bus sambil termenung , aku mencoba menghampirinya. “Bisma sedang apa kau di situ sendirian” seketika itu juga bisma kaget melihatku berada di tempat dia berada “sedang apa kamu disitu” tanya Bisma ter heran, “Kelihatannya aku sedang apa, memangnya kamu sedang apa duduk sendiri disini sambil melamun?, apa kamu tidak sekolah? ” tanyaku penasaran, belum bisma menjawab aku melihat Dicky yang sedang mencari aku, seketika itu juga aku menarik Bisma bersamaku untuk pergi dari tempat itu, aku sebenarnya tidak tau mau kemana tapi aku berusaha lari dari Dicky, “Ve sebenarnya kita mau kemana ?” tanya bisma “aku juga ga’ tau mau kemana, ada saran ga’?” jawab ku dengan terengah-engah “baik akan ku ajak kau ke tempat yang paling bagus” jawab bisma, kamipun masih berlari sampai akhirnya tiba di tempat yang di janjikan oleh Bisma.
Sesampainya di tempat itu aku terpesona melihat suasana yang ada disana,suasana yang begitu indah di sebuah danau yang ukurannya tidak terlalu besar tapi pemandangannya yang asri membuat mata tidak bisa berkedip, “Waw, aku baru pertama kali melihat pemandangan yang seindah ini” kata ku terkagum kagum, “oh yah” jawab Bisma, kamipun bercanda dan menghabiskan waktu bersama di danau itu, entah mengapa timbul perasaan kepada Bisma, tapi itu hanya perasaan suka sebagai teman, entahlah, lama kami menghabiskan waktu berdua akhirnya Bisma mengantarku pulang, tapi aku menyuruh Bisma untuk menjemputku besok untuk pergi kesekolah bersama. Keesokan harinya saat aku ingin kesekolah Bisma sudah menunggu untuk berangkat sekolah bersama, ditengah tengah perjalanan aku melihat Rangga sedang bercekcok dengan seorang om-om di atas mobil, mungkin itu ayah Rangga tapi mungkin juga bukan, entahlah aku tidak ingin mengetahuinya.
Sesampainya di sekolah aku dan Bisma masuk kekelas karena sebentar lagi kelas sudah mulai, setelah bel masuk berbunyai Pak Reza pun masuk karena pagi itu adalah jadwal pelajaran kimia, tapi aku merasa seperti melupakan sesuatu, tiba-tiba pak Reza menghampiri dan menyuruh aku untuk mengumpulkan tugas, seketika itu pun aku mencari buku tugas dalam tas dan ternyata aku lupa bahwa aku lupa membawanya, dan saat itu juga pak Reza menyuruh aku pergi ke perpustakaan untuk membuat tugas itu sampai selesai, aku sangat terkejut karna tugas dari pak Reza itu sangat banyak, dalam hati aku berkata “Bisa patah jari-jari ku kalau menulis tugas yang banyaknya seperti itu dalam waktu yang sangat singkat”, akupun bergegas meninggalkan kelas dan pergi keperpustakaan. Di dalam perpustakaan aku bertemu dengan Rangga aku tidak mengerti apa yang sedang dia lakukan di perpustakaan pada saat jam pelajaran, aku mencoba menghampirinya dan bertanya padanya, “apa yang kamu lakukan di sini angga” jawab ku dengan rasa ingin tahu, dia hanya menatapku dalam-dalam dan tak memberikan jawaban. Setelah beberapa saat dia terdiam dan menatapku dia lalu berdiri dan menarik tangan ku keluar perpustakaan, aku tak mengerti apa sebenarnya yang ada di pikirannya.
Di sepanjang perjalanan aku tidak tau rangga akan membawa ku kemana, tak sadar kami sampai di tempat perhentian yang tidak lain tempat yang ingin di tuju oleh rangga yaitu tempat parkir sekolah, entahlah pikiranku saat itu kosong hanya di penuhi oleh tanda tanya dan rasa penasaran yang tinggi terhadap Rangga, seketika itupun rangga menarik ku masu ke dalam sedan silver yang terparkir di parkiran sekolah, “sebenarnya kita mau kemana?” tanya ku dengan sedikit rasa takut, dia hanya melihatku dan tak berkata-kata, “baiklah aku pasrah sekarang” ujar ku dalam hati. Tak sadar sedan yang aku tumpangi yang taklain adalah mobil Rangga melaju dengan sangat kencang. aku mulai panik , aku tak mengerti apa yang akan di lakukan Rangga.
Setelah sekian lama berada dalam mobil Rangga dan selama itu juga aku merasa ketakutan akhirnya kami sampai di sebuah danau yang tak lain danau itu adalah danau yang di tunjukkan Bisma padaku kemarin, ”kamu senang” jawab Rangga dengan penuh misteri, “Ok,,, sekarang aku mulai takut angga sebenarnya kamu itu kenapa? Kenapa mengajakku kesini?” jawabku dengan suara yang keras, angga mulai lagi, dia tidak menjawab pertanyaanku “baiklah kalau itu maumu” dengan kesal aku mengungkap hal itu sambil berjalan pergi menjauh dari Rangga, tak berselang beberapa lankah aku di kejutkan dengan ucapan Rangga yang bilang klo dia suka sama aku, aku kaget dan langsung berbalik arah dan menatap tajam padanya. Sebenarnya aku dari dulu menyukai Rangga tapi entah kenapa setelah dekat dengan Bisma aku mulai sedikit melupakan rasa suka ku pada Rangga, entahlah aku tak berfikir dan menghampiri Rangga lebih dekat, entah apa yang aku pikirkan kami tenggelam dalam cradle of love and kisses, saat itulah jalinan cinta antara Rangga dan aku terajut tak sadar kami pun lupa untuk kembali kesekolah dan menghabiskan waktu berdua di danau itu, tapi aku tak mengerti dengan apa yang aku pikirkan, tiba-tiba saja aku memikirkan Bisma di saat bersama Rangga.
Di tempat yang lain atau bisa di bilang di sekolah, Bisma sibuk mencari ku mungkin dia khawatir dengan keadaan ku, tapi dia tidak menemukan ku sampai jam pulang sekolah, entahlah tapi itulah yang terjadi. Bisma pun membawakan tasku ke rumah tapi tanpa di sengaja (atau mungkin di sengaja oleh penulis) aku dan Rangga pada saat itu juga menuju kerumah untuk mengantarku pulang, tapi aku dan Rangga yang sampai duluan dan sebelum turun ke mobil Rangga mencium kening ku dan berkata sampai jumpa, tanpa sadar Bisma melihat kejadian itu. Entahlah aku tiba-tiba merasa bersalah kepada Bisma karena melihat kejadian ini, aku tak mengerti pada hal bisma hanyalah temanku tapi aku tak tahu ada tempat di hatiku untuknya. Setelah keluar dari sedan silver yang taklain adalah mobil Rangga aku berjalan menghampiri Bisma, “eh... ima ngapain ke sini” tanya ku dengan rasa bersalah, “oh nga’ beb aku Cuma mau nganter tas kamu ” jawab Bisma dengan sedikit kesal, “terimakasih” jawabku.
Aku tak mengerti kenapa Bisma terlihat begitu kesal apa kah mungkin dia cemburu melihat ku tadi bersama Rangga, entahlah. Bisma terdiam sesaat, aku hanya berkata “mau mampir” untuk memecah kebisuan di antara kami, “Boleh” bisma hanya berkata seperti itu, kami pun masuk kedalam rumah, “tunggu ya aku buatkan mimum” kataku kepada Bisma. Stelah membuatkan minum untuk bisma, kami memulai perbincangan, tanpa sadar bisma bilang kalau dia menyukai ku sejak pertama bertemu, aku mulai bingung memilih antara Bisma dan Rangga. Aku bingung memikirkan hal ini rasanya kepalaku mau pecah, “maaf angga sebenarnya aku suka kamu tapi itu dulu sebelum Bisma hadir dalam hari-hariku, tapi kenapa dulu saat aku menyukai mu kamu sama sekali tak merespon perasaan aku” ujar ku dalam hati sambil kissing Bisma. Setelah hari ini aku harus menentukan aku pilih antara Rangga atau Bisma.
Aku memikirkan hal ini semalaman, memang aku mencintai Rangga tapi itu dulu, tapi Bisma aku hanya akan menyakitinya kalau aku menerimanya tapi perasaanku masih terbayang-bayang ingatan tentang Rangga. Keesokan harinya aku bertemu Bisma dan Rangga di kantin aku tak mengerti kenapa mereka duduk bersama (right time), sekarang aku akan memberitahu mereka tentang perasaan ku sebenarnya, “kebetulan kalian berdua di sini, ada yang ingin kubicarakan, kumohon kalian mengerti ” kata ku dengan perasaan dag-dig-dug, “aku ma...ma.. u... bilang kalau kita bertiga jadi sahabat aja” kataku dengan degdegan, “jadi kita bertiga sekarang berteman” jawab mereka berdua bersamaan “ide yang bagus ” kata Rangga, dengan cepat Bisma meng iyakan jawaban Rangga itu, “aku senang karna bisa bersama kalian berdua selamanya” ujar ku dalam hati, akhirnya setelah hari ini berlalu kami ber3 menjadi sahabat selamanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar